Dampak Negatif MOS: Meniru Militer Tapi Ngawur - Tahun
ajaran baru sekolah,usai hingar bingar penerimaan siswa baru,satu kegiatan yang
menjadi perhatian khalayak adalah Masa Orientasi Sekolah dengan segala pro dan
kontra. Yang Pro berpendapat bahwa Mos adalah salah satu kegiatan yang
bermanfaat dan berguna untuk siswa/mahasiswa baru untuk mengetahui seluk beluk
kegiatan belajar mengajar di sekolah atau kampus yang akan menjadi tempatnya
menuntut ilmu sekaligus bagian dari episode dalam kehidupannya. Yang Kontra
berpendapat kegiatan Mos lebih banyak dampak negatifnya dari pada manfaatnya,
yang memang kenyataannya dampak negatif MOS benar-benar terjadi di setiap
tahunnya dengan bukan hanya menimbulkan dampak negatif secara psikologis,
bahkan hilangnya nyawa atau kematian. MOS adalah sarana atau ajang balas dendam
senior terhadap yunior, MOS adalah kegiatan legal untuk melakukan bullying atau
kekerasan fisik dan psikologis dari senior terhadap yunior.
Terlepas dari pendapat Pro atau Kontra, MOS sebenarnya
seperti kegiatan-kegiatan sekolah lainnya bertujuan baik. Namun dalam
pelaksanannya sering kali menimbulkan dampak negatif.Dampak negatifnya melebihi
dari tujuan awalnya. MOS sebagai salah satu bagian dari kegiatan
kependidikan.Kegiatan MOS, ada atau dilaksanakan diseluruh pendidikan baik
pendidikan umum, kedinasan atau pendidikan militer, bahkan
pendidikan-pendidikan keahlian tertentu yang sifatnya hobbi seperti pendidikan
dasar pecinta alam, pendaki gunung, dll.
Ironisnya MOS-MOS yang dilaksanakan oleh pendidikan umum
baik tingkat SLTP, SLTA maupun Perguruan Tinggi meniru pola dan kegiatan MOS di
pendidikan-pendidikan militer atau pendidikan bela negara maupun pendidikan
keahlian khusus yang memerlukan pembentukan pola sikap dan perilaku seperti
militer karena tuntutan tugas dan tanggung jawabnya serta dinamika lapangan
dalam penugasannya, namun meniru atau ikuti pola MOS di pendidikan militer tapi
NGAWUR.
Pola pendidikan di Militer dilaksanakan secara terencana,
terawasi. Hampir seratus persen tujuan pelaksnaan MOS di pendidikan militer
sesuai tujuan yang ada dalam draft perencanaan. Dampak negatif juga dapat
diminimalisir hampir mendekati Nol Persen.
United States Army(Tentara Angkatan Darat Amerika) mengakui
bahwa tingkat keamanan atau dampak negatif pendidikan pelatihan dasar
Para(Terjun Payung) bagi para prajurit TNI AD yang dilaksanakan di Sekolah Para
Pusdik Pasukan Khusus Batujajar, lebih baik dari tingkat keamanan pelatihan
terjun payung di Angkatan Darat Amerika Serikat dilihat dari mulai
perencanaan,persiapan, pelaksanaan sampai dampak negatif yang ditimbulkan.
Menurut penelitian United States Army,dampak negatif atau
korban dalam pendidikan terjun payung di Sekolah Para Pusdik Kopassus TNI AD hanya
sekitar Nol Satu patersen, sedangkan di United States Army kisaran Empat sampai
Lima persen
Kegiatan MOS atau MASGAR (Masa Penyegaran ) di pendidikan
militer atau bela negara secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Perencanaan: Masgar atau Mos dibuat perencanaan. Rencana
pelaksanaan kegiatan dipaparkan dihadapan Komandan Pusdik dan staf terkait
untuk diketahui, diberi masukan dan pada akhirnya untuk mendapat persetujuan
dari Komandan Pusdik. Dalam perencanaan dipaparkan pula, Rencana Pengamanan/Ren
Pam( meliputi rencana pengamanan berita, pengamanan materiil, pengamanan
kegiatan, pengamanan personel) dan Rencana Kesehatan/Ren Kes(meliputi rencana
kegiatan dukungan kesehatan dilapangan, rujukan atau evakuasi, medis dan
paramedis, serta ambulance, alat kesehatan yang dilibatkan dalam kegiatan)
2. Tujuan: Tujuan Masgar untuk merubah perilaku baik mental
maupun fisik untuk memasuki dunia militer atau kehidupan keahlian(misal
keahlian mendaki gunung ), Bukan hanya sekedar memberi pengetahuan tentang
dunia militer.
3. Kegiatan: Sesuai Rencana pelaksanaan yang dipaparkan,
perubahan kegiatan karena dinamika di lapangan harus mendapat persetujuan
Komandan setelah berdiskusi dengan staf.
4. Pengawasan: Meski pelaksanaan Masgar dari senior ada
mekanisme pengawasan oleh fihak pusdik, diluar jam dinas pengawasan oleh
Perwira Pengawas/Pa Was yang telah ditunjuk dan Piket Kesatrian/Markas. Ada
mekanisme Rewads dan Punishment bagi pelaksana Masgar. Senior sebagai pelaksana
akan selalu berusaha pelaksanaan sesuai Rencana yang ditetapkan, jika melanggar
ketentuan apalagi sampai menimbulkan korban ada sanksi atau hukuman yang telah
menjadi prosedur tetap atau SOP satuan.
5. Pengamanan: Selalu ada unsur pengamanan dan kesehatan
yang ikut dalam seluruh kegiatan.
6. Pola : Pola kegiatan Masgar meski dilaksanakan senior
adalah pola BIMSUH/Bimbingan dan pengasuhan. Pelaksanaan Masgar diarahkan
dengan pola membimbing dan mengasuh bukan pemaksaan perubahan sikap dan
perilaku semata.
7. Evaluasi : Setiap kegiatan dievaluasi. Pembuatan Laporan
kegiatan kepada Komandan Pendidikan. Pertanggung jawaban secara
administratifmkegiatan, logistik dan hasil pencapaian dengan tolok ukur tujuan
kegiatan yang telah ditetapkan.
Nah kalau MOS bagaimana? Apakah kegiatan MOS selalu mengacu
pada rencana kegiatan yang sudah disetujui oleh kepala sekolah, diketahui
seluruh staf sekolah dan guru? Adakah Rencana Pengamanan kegiatan dan Rencana
Kesehatan? Apakah kegiatan sesuai dengan tujuan yang dituangkan dalam rencana
kegiatan? Adakah Pengawas dari staf sekolah? Apakah ada mekanisme pusnihment
atau sanksi jika melakukan kesalahan diluar rencana kegiatan yang telah
ditetapkan sehingga paa senior sebagai pelaksana MOS mempunyai rasa takut kena
sanksi jika melakukan kegiatan diluar yangditetapkan ? Adakah tim kesehatan
yang selalu ikutdalam setiap kegiatan MOS untukmendeteksi dan mengantispasi
jika ada siswa yang bermasalah keseh atan saat melakukan kegiatan MOS?
Mengapa ada kegiatan dan hukuman fisik yang sering kali
berlebihan? Bukankah tujuan MOS adalah agar para siswa baru, mengetahui sekali
lagi hanya pada level mengetahui? Untuk apa ada kegiatan fisik yang berlebihan?
Dalam kegiatan militer, bela negara, pecinta alam, satgas bencana alam memang
memerlukan perubahan pengetahuan dan perilaku buka hanya mengetahui.Kesemaptaan
jasmani mutlak diperlukan, kegiatan dan hukuman fisik tidak asal atau ngawur
tetapi ada ketentuannya yakni betujuan menambah atau mempertahankan, memulihkan
kesemaptaan jasmani atau kekuatan fisik.
Korban MOS terakhir dikabarkan karena setelah menerima
hukuman scot jump dari seniornya. Sungguh Ironis dan menyedihkan. Sejak tahun
2000 an , TNI AD melarang dan mengahapus segala kegiatan maupun hukuman fisik berupa
scot jump, karena menurut hasil penelitian Direktorat Kesehatan Angkatan
Darat/Ditkesad dan Dinas Penelitian Dan Pengembangan Angkatan
Darat/Dislitbangad, kegiatan scot jump menimbulkan dampak negatif terhadap
lutut dan persendian yang akan merusak sistem persedian pada kaki mengakibatkan
melemahnya kekuatan fisik bagi seorang prajurit, karena kaki adalah tumpuan
utama ataukekuatan utama dala kesemaptaan jasmani. Apalagi bagi prajurit
infantrie,lutut adalah modal utama,maksudnya kekuatan fisik dengan berjalan
kaki adalah salah satu modal utama prajurit infantrie.Lutut adalah modal utama
daya gerak bagi seorang prajurit utamanya prajurit infantrie.uk
Saatnya MOS direformasi untuk mencapai tujuan utama yaitu
menunjang kegiatan belajar mengajar, bukan sebaliknya arena balas dendam,
sarana bullying dan kerugian nyawa, serta
trauma psikologis.
sumber :
